12 Maio, 2008

vote me for being GOD

maaf saya mengulangnya,

Surat Untuk Kawanku, Su

Hai Su,Ceritamu tentang kekecewaan Asvius, kematangan dan kenaifan, penghianatan juga keberanian, ternyata terbukti dengan jelasnya sudah,
Kita memang, akan, selalu ditertawai oleh tragedi, titik.
Sejarah bangsa yang kabur, yang berulang, yang belum bisa dimengerti, semuanya hanya bisa terpatri pada hati yang makin melemah dan ragu.
Dendam-mu yang turun ke hati dan membatu, pelan tapi pasti, meleleh cair, untuk kemudian sirna, tak ada dendam lagi.
Dengan terhuyung-huyung kita terpaksa memalingkan muka untuk memandang ke depan, namun apakah ke depan itu, Su? Jawabnya adalah ketiadaan.
Ceritamu ihwal kejujuran itu telah memberikan salam terakhirnya, mesra tapi sayu, seperti katamu. Kau tak bisa jalan terus, Su.
Aku berbicara sejujurnya. Kepalsuan telah memagari jalan-jalannya, kelokan-kelokannya, tujuan-tujuannya, ketulusan akhirnya hanya menjadi mimpi di siang hari bolong. Hidup pun mengeluh, kapankah tiba pada batasnya?Tapal batas perjuanganmu juga sia-sia belaka, Su, maaf, aku berhianat padamu,
bukankah semuanya yang terjadi hakekatnya adalah penghianatan?
aku telah merubah cara berpikirku, bukan demi bangsa, ataupun atas nama Tuhan (kau pasti tersenyum membaca hal ini), namun hanya untuk diriku sendiri.
Semuanya sudah aku pertaruhkan, harga diri, kebisaan-kebisaan, intelektualisme, prinsip-prinsip, etika dan moral yang pernah kau ceritakan, dengan antusiasme kesenangan dan hak hidup untuk memperolehnya.
Mungkin kau juga merasakan hal yang sama, namun tiada pernah kau bercerita padaku, tertutup oleh ideal-moral mu, yang pada akhirnya menikammu dari belakang.
Kau harus mempercayaiku, Su.
Kawan-kawan seperjuanganmu hanya bisa mengerang kesakitan, menunggu waktu,
suara-suara lantangnya telah parau dan serak. Langkah-langkah kakinya juga tidak serempak lagi (masih ingatkah kau, dengan long-march-long-march kita, mencoreti rumah ibu, mengutuki segalanya?)….kenangan itu….indah namun tiada berguna, percuma!
Jangan menangis, Su. Simpan airmatamu untuk batin-batin yang kehausan, sebab cerita-ceritamu akan mimpi-mimpi kita yang tidak akan pernah datang, juga pertempuran-pertempuran yang tak bisa kita menangkan, memang begitu adanya.
Aku menyerah…kalah.
Kita tak pernah menanam apa-apa, kita tak kan pernah kehilangan apa-apa.


untuk bulan kebangkitan, untuk gie.

02 Março, 2007

Saddam's Execution

vote me for being GOD





What you should do about it?
Man executing man...what a god!

20 Fevereiro, 2007

Rumus

vote me for being GOD


Apa yang terucapkan sebagai X adalah minus X.

-PAT

14 Dezembro, 2006

2007 : Could It Be The End?

vote me for being GOD

2007...
Mati. Ya, kata itu mungkin saja berlaku di tahun yang sebentar lagi datang dengan sangat tiba-tiba. Tak sempat aku menyapanya dengan penuh luapan kegembiraan seorang pengembara yang kembali pulang menemui istrinya yang cantik. Yang masih melebarkan kedua tangannya untuk memeluk mesra kehidupan. Rencana hanyalah tinggal asa. Kita bisa tahu seberapa jauh, namun seberapa lama lagi kita bisa tahu akan seberapa jauh itu?

Mati. Ya, kata itu. Hanya satu kata itu. Apakah aku siap menyambutnya? Hatiku berteriak: jangan!...jangan!...tolong jangan sekarang! beri aku waktu lagi..beri aku waktu lagi...namun, daun itu telah jatuh, sinarnya juga telah redup bahkan hilang.

Mati. Ya, kata itu. Hanya satu kata itu yang akan memaksa tanpa paksaan. Kata itu yang menciptakan
kata selamat jalan. Selamat jalan semoga cepat sampai tujuan. Tujuan yang belum terbayangkan akan kejadiannya. Kata ini juga yang akan mempertemukan antara yang fana dan yang abadi. Yang liar dan yang penuh kelembutan. Yang bodoh dan yang tahu.

Ya... mati akan membuatku mengerti bahwa aku fana, liar, dan bodoh.

Untuk selamanya di dunia & dunia setelah dunia, de. Hanya kamu.